Katalog Lagu
Jelajahi dan temukan detail lirik dari rilisan lagu terfavorit Anda
Satu Tatap Saja
“🎵 Sudah jauh kaki melangkah, entah ke mana (Ke mana, ke mana?) Bertanya pada orang, tanpa ada jawabnya Sudah ku coba hapus, semua tentang kita (Hapus semua) Tapi jujur saja, rasa ini masih ada "Masih sama..." Mungkin kau sudah bahagia di sana (Bahagia...) Dapat yang lebih baik, hidup sejahtera Aku tak memaksa, untuk ulang cerita Hanya butuh penutup, sebelum ku lupa Tak minta kembali, tak perlu berjanji (Tak perlu, tak perlu) Hanya satu detik, pinjam waktumu hari ini Izinkan ku tatap, matamu sekali lagi (Sekali lagi) Sebagai obat rindu, sebelum ku pergi "Biar ku pergi..." 🎵 Cuma satu tatap saja (satu saja) Biar rindu ini reda Lihat aku sebentar saja "Tolonglah..." (Satu tatap saja) (Satu tatap saja)”
Sehati
“🎵 Tibalah hari ini (hari ini) Saat yang ku nanti-nanti Pelan langkah ku Menatap ke depan (ke depan) Senyum mu menenangkan Meski sedikit tegang (jangan tegang) Tanganmu melambai Isyaratkan jangan bimbang Di tempat ini, kita mengikat janji Menjadi satu, hingga disirnakan waktu Slalu bersama, di suka duka dunia Bergandeng tangan, bangun surga kita berdua 🎵 Bisikan hati kita (hati kita) Buat mata ku berlinang Terlintas perihnya Terjal yang kita lalui Kuatnya hati mu, yakinkan diri ku Bersama mu ku arungi bahtera cinta Di tempat ini, kita mengikat janji Menjadi satu, hingga disirnakan waktu Slalu bersama, di suka duka dunia Bergandeng tangan, bangun surga kita berdua (Menjadi satu, hingga disirnakan waktu) (Slalu bersama, di suka duka dunia) Bila badai datang menguji cinta kita Kita teduh di doa, tak goyah percaya Kau dan aku, setia dalam setiap langkah (setiap langkah) Cinta ini restu semesta "Hai ganteng ku, berbinar mata mu" (kasih ku) "Sambil berbisik, cantiknya istri ku"”
Suara Tawa Pagi Hari
“🎵 Alarm tak perlu bunyi, (tak lagi perlu) Tirai terbuka lembut, menyambut yang baru (Hmmm...) Aroma kopi yang baru kau seduh Berbaur dengan derap langkah kaki kecil itu (Langkah kecil...) Dulu kita berdua, (menggambar di awan) Kini kita ciptakan, (galaksi kita) Sebuah simfoni kecil, (ha-a-a) Yang paling nyata, yang paling berharga Aku tak minta harta, (permata dunia) Aku tak minta takhta, (yang mudah pudar) Yang kuinginkan hanya ini, (selalu ini) Mendengar suara tawa pagi hari (Pagi hari kita...) (Pagi hari kita...) 🎵 Kemeja berantakan, (terburu-buru) Roti selai di tangan, (saling berebut) (Wo-u-o...) Ini mungkin konyol, (bagi mata dunia) Tapi ini surga kecil Dulu kita berdua, (menggambar di awan) Kini kita ciptakan, (galaksi kita) Sebuah simfoni kecil, (ha-a-a) Yang paling nyata, yang paling berharga Aku tak minta harta, (permata dunia) Aku tak minta takhta, (yang mudah pudar) Yang kuinginkan hanya ini, (selalu ini) Mendengar suara tawa pagi hari Aku tak minta harta, (permata dunia) Aku tak minta takhta, (yang mudah pudar) Yang kuinginkan hanya ini, (selalu ini) Mendengar suara tawa pagi hari Di tengah bising, (hidup yang berlari) Di tengah ambisi, (yang sering membuta) Suara inilah, (suara ini) Kompas yang menjagaku... tetap di bumi (Menjagaku... tetap manusia) Tawa pagi, simfoni abadi Tawa pagi, simfoni abadi (Selamanya) Tawa pagi, simfoni abadi (Selamanya) Tawa pagi, simfoni abadi”
Tejamaya Kencana
“Ditambahkannya kata Kencana (emas/mulia) memberikan kesan fajar yang sakral dan megah namun tetap lembut. Menggambarkan aura seseorang yang telah melewati malam gelap dan kini jiwanya memancarkan energi baru.”
Album Foto Kita
“🎵 Sampul berdebu, (terlupakan waktu) Tersimpan di rak atas, (bersama rindu) (Hu-u-u...) Kau bilang, "Buka ini", dengan senyum di mata Membawa kita jauh Lihat halaman pertama, (kau mulai tertawa) Rambutmu konyol sekali, (caramu bergaya) (Ha-a-a...) Aku yang di sana, (yang pipinya merah) Malu-malu memegangmu, (di taman belakang) Lembar-lembar ini, (bukan sekadar kertas) Ini jejak langkah kita, (yang takkan terhapus) Dari dua anak lugu, (ha-a-a) Menjadi satu... yang tak terputus Di album foto kita, (warnanya memudar) Tapi ceritanya baru, (semakin jelas) Setiap tawa dan air mata, (tercetak di sana) Merekam perjalanan, (dari dulu) Hingga kita yang sekarang Hu-u Hu-u Hu-u Ini foto wisuda, (lalu foto pertama) Di apartemen kecil, (yang penuh rencana) (Wo-u-o...) Lihat, ada si kecil, (di gendonganmu) Dunia berputar cepat, (tapi kita utuh) Lembar-lembar ini, (bukan sekadar kertas) Ini jejak langkah kita, (yang takkan terhapus) Dari dua anak lugu, (ha-a-a) Menjadi satu... yang tak terputus Di album foto kita, (warnanya memudar) Tapi ceritanya baru, (semakin jelas) Setiap tawa dan air mata, (tercetak di sana) Merekam perjalanan, (dari dulu) Hingga kita yang sekarang Di album foto kita, (warnanya memudar) Tapi ceritanya baru, (semakin jelas) Setiap tawa dan air mata, (tercetak di sana) Merekam perjalanan, (dari dulu) Hingga kita yang sekarang Bukan hanya gambar, (beku dan diam) Ini adalah bukti, (di malam kelam) Bahwa kita nyata, (bahwa cinta ada) Tertulis di sini... (selama-lamanya) (Selamanya...) Kertas memudar, cinta memancar (Hu-u...) (Hu-u...) (Hu-u...) Kertas memudar (Hu-u...) (Hu-u...) (Hu-u...) Kertas Memudar... Cinta Memancar”
Jaya Baya Nirbana
“Sebagai title track, mempertahankan nama utama sangat penting, namun menambahkan sub-judul seperti (Mantra Pemulihan) atau Jaya Baya Nirbana (Kemenangan Atas Bahaya Menuju Kedamaian) akan menegaskan bahwa "pulih" di sini dicapai lewat jalur spiritual yang senyap.”



