Tracks Catalog
Explore track lyrics, durations, and streaming stats from our catalog
Bayang Semu
“(Hu-u) 🎵 Setiap sudut kenangan berdebu Masih ada bayangmu mengganggu Maafkan bisik hati yang merayu Meski kau tak lagi milikku Kau jauh di mata, dekat di angan Berat langkah ini tinggalkan Senyummu, tawamu, jadi beban Saat ku coba lupakan Hati ini masih menanti Jiwa ini s'lalu memanggil Walau nanti ku t'lah terganti Manismu membekas abadi (Hu-u) Di setiap gema, ada namamu (Hu-u) Bayang semu Pernahkah kau rasa kosong di jiwa? Saat lihatku masih setia Salahkah rindu ini menyapa? Bertahan di batas nyata Kau jauh di mata, dekat di angan Berat langkah ini tinggalkan Senyummu, tawamu, jadi beban Saat ku coba lupakan Hati ini masih menanti Jiwa ini s'lalu memanggil Walau nanti ku t'lah terganti Manismu membekas abadi (Hu-u) Di setiap gema, ada namamu (Hu-u) Bayang semu Di batas akhir bayang semu Ku berdiri, lepas darimu Ini bukan lagi tentangmu Tapi tentangku, melangkah baru Hanya sisa rindu yang tak kunjung layu Manismu membekas abadi 🎵 (Di setiap gema... ada namamu...) (Bayang semu...) Membekas abadi Hu-u-o Di setiap gema, ada nama mu Membekas abadi Hu-u... Hu-u Hu-u... Hu-u”
Jadilah Abu
“🎵 Kau masih diam di sana Menunggu rasa yang lama Maaf, pintuku tertutup Ada hati lain yang menetap (Sudah berakhir) Jangan cari sisa bara Di tungku yang sudah tiada Aku tak mau berdrama Memberi janji yang semu (Tak ada kita) Kejam ini caraku sayang Agar kau tak terus melayang "Hapus aku" (Hapus aku) Bakar aku sampai hilang Jangan sisakan bayang Ini kasih paling suci Mematahkan mimpi ini Biar kau sadar (Aku t'lah pudar) Jadi abu, jadi debu (Terbanglah jauh) Jadi abu, masa lalu (Lepaskan aku) Jangan rindu, jangan tunggu Habiskan aku "Selesai" 🎵 Tak ada obat yang manis Untuk luka yang teriris Bernapaslah Temukan cinta yang baru (Tanpa aku) Bakar aku sampai hilang Jangan sisakan bayang Ini kasih paling suci Mematahkan mimpi ini Biar kau sadar (Aku t'lah pudar) Jadi abu, jadi debu (Terbanglah jauh) Jadi abu, masa lalu (Lepaskan aku) Jangan rindu, jangan tunggu Habiskan aku "Selesai" 🎵”
Pesan Suara Dari Seberang
“🎵 Lampu notifikasi Berkedip di gelap... (di kamarku) Jam tiga pagi di sini, (entah jam berapa di sana) Aku tekan 'play', (menahan nafasku) Mendengar udaramu... (mendengar hembusanmu) Sebelum satu kata... (terucap darimu) (Hu-u-u...) Suaramu begitu dekat Jelas, tapi terdistorsi... (oleh rindu) Kau bilang "semua baik"... (ha-a-a) Tapi getarnya aku tahu... kau juga sama hancurnya Pesan suara dari seberang... (ooh...) Obat rindu yang tak kunjung sembuh Suaramu ada di sini, (tapi tak bisa kupeluk) Di antara "halo" dan "selamat tidur"... (ha-a-a) Ada jeda... yang membunuhku perlahan (Membunuhku perlahan...) (Di seberang...) 🎵 Kau ceritakan harimu, (hujan di kotamu) Hal-hal kecil biasa... (yang dulu kita bagi) (Wo-u-o...) Kini terdengar jauh... seperti dari dunia lain (Dunia yang tak bisa kusentuh) Suaramu begitu dekat Jelas, tapi terdistorsi... (oleh rindu) Kau bilang "jangan sedih"... (ha-a-a) Tapi akhirannya aku tahu... kau juga sama rapuhnya Pesan suara dari seberang... (ooh...) Obat rindu yang tak kunjung sembuh Suaramu ada di sini, (tapi tak bisa kupeluk) Di antara "halo" dan "selamat tidur"... (ha-a-a) Ada jeda... yang membunuhku perlahan Pesan suara dari seberang... (ooh...) Obat rindu yang tak kunjung sembuh Suaramu ada di sini, (tapi tak bisa kupeluk) Di antara "halo" dan "selamat tidur"... (ha-a-a) Ada jeda... yang membunuhku perlahan Aku takut... (suatu hari) Suara digital ini... (jadi satu-satunya) Yang tersisa... (dari kita) Kita jadi dua hantu... yang saling berbisik Di dalam mesin Kuputar lagi, suaramu lagi Kuputar lagi, suaramu lagi Kuputar lagi, suaramu lagi (Di sini) Kuputar lagi, suaramu lagi (Sampai pagi) (Hu-u...)”
Arah Pulang
“🎵 Sepion tinggalkan siluet Jalanan jadi magnet Tak ada lagi denah Hanya kau arah terindah (terindah) Selama jemari tertaut Badai pun terasa laut Karena rumah yang sejati Bukan tempat, tapi hati 🎵 Dulu kompas hatiku patah Mencari dermaga di antah berantah Kini sauhku telah kau tatah Di dada kirimu aku merumah (merumah) Selama jemari tertaut Badai pun terasa laut Karena rumah yang sejati Bukan tempat, tapi hati 🎵 (Hu-u) Rumahku di hatimu Kita pulang Selamanya”
Kursi Kosong Sebelahku
“🎵 Alarm berbunyi Tak ada yang 'ku bangunkan Sisi ranjangmu... (hu-u-u) Masih rapi... masih dingin Aku ke dapur... (berjalan pelan) Membuat kopi... (untuk dua cangkir) Lalu aku teringat... (ha-a-a) Kau tak di sini (Kau takkan pernah kembali) Oh, kursi kosong sebelahku Menjadi saksi bisu Dunia terus berputar... (tapi duniaku) Berhenti... di hari kau pergi (Di hari kau pergi...) (Kau tak di sini...) (Di sebelahku...) 🎵 Rutinitas yang sama, rasanya berbeda Rutinitas yang sama, rasanya berbeda Aku bicara sendiri... (menghadap bayangmu) Bertanya "apa kabar?"... (pada fotomu) Aku tahu aku gila... (ha-a-a) Tapi ini satu-satunya caraku... bertahan (Bertahan...) Oh, kursi kosong sebelahku Menjadi saksi bisu Dunia terus berputar... (tapi duniaku) Berhenti... di hari kau pergi (Di hari kau pergi...) Orang bilang "waktu... (akan menyembuhkan)" Tapi mereka tak tahu... (mereka tak mengerti) Sepi ini abadi... (menusuk di hati) Bagaimana caranya... (ha-a-a) Melanjutkan hari Melanjutkan hidup... tanpamu? Rutinitas yang sama, rasanya berbeda Rutinitas yang sama, rasanya berbeda 🎵”
Purna
“🎵 Dulu ku tanya 'Tuk apa semua? Retak dan luka Tangis dan tawa 🎵 Kini ku lihat Sebuah lukisan Semua warnanya Saling menguatkan, menjadi purna (ha-a-a-a...) Purna (semua di tempatnya...) 🎵 Yang patah dulu Jadi fondasi (hi-i...) Kini ku lihat! (sebuah lukisan!) Semua warnanya! (menjadi purna!) 🎵”


