Tracks Catalog
Explore track lyrics, durations, and streaming stats from our catalog
Nektar Rindu
“Hu-u-u... manis di kalbu Ah-a-ah... hanya untukmu 🎵 Senja merekah, kau genggam erat tanganku Kau bisikkan janji, duniaku satu di kamu Jarak yang membentang, bukanlah penghalang Justru jadi saksi, cinta yang takkan lekang Kau lukiskan esok Tentang cita nan megah Dan rinduku ini Jadi pemanis langkah Menatap bintang, menembus pekatnya malam Titipkan segenap rasa, untukmu yang ku damba Hela napas ku, terukir senyummu Nektar rindu, menetes di kalbu 🎵 Terngiang janjimu, 'tuk kembali segera Merajut semua mimpi, dalam hangatnya dekap Selembar pesan singkatmu, jadi mantra terindah Menjaga api cinta, yang tak pernah padam Meski tanpamu Waktu terasa lama Namun bayangmu Selalu setia Menatap bintang, menembus pekatnya malam Titipkan segenap rasa, untukmu yang ku damba Hela napas ku, terukir senyummu Nektar rindu, menetes di kalbu 🎵 Kunikmati detik penantian Bagaikan madu, termanis di hati Melipat ruang, menembus sang waktu Oh sayangku, jiwa ini s'lalu menunggumu (Hela napas ku...) (...terukir senyummu) Hingga nanti ...kita bertemu”
Tersinggung Itu Hak Mu
“🎵 Tersinggung itu hakmu (Hakmu) Tapi bukan berarti Dunia setuju (Dunia setuju) Rasa sakit itu milikmu "Simpan saja" Tapi itu bukan (bukan, bukan) Kebenaran baru (Bukan, bukan, bukan) Tersinggung itu hakmu (Hakmu, hakmu) Tapi bukan berarti Dunia setuju (Tak setuju) Rasa sakit itu milikmu "Renungkanlah" Tapi itu bukan Kebenaran baru 🎵 Kau telan bulat-bulat Setiap kata yang lewat Padahal ku cuma sapa (Cuma menyapa) Kenapa jadi drama? "Santai saja" Hatimu kaca, mudah retak Disentuh sikit, langsung meledak (Duar!) Memang rasa itu nyata (Valid, valid) Tapi fakta beda cerita Jangan paksa semua orang Paham lukamu yang meradang "Dengarkan ini" Marah tak bikin kau menang (Tak menang, tak menang) Cuma bikin hatimu tegang (Makin tegang) Menjadi korban perasaan Tak lantas kau pegang kebenaran (Ooooh, sadarlah sayang) Emosi bukan bukti Logika jangan mati Tersinggung itu hakmu (Yeah, tersinggunglah) Kita yang salah! (Kita tak salah) 🎵”
Angkasa Kertas
“(Hu-u...) (Hu-u-u...) Kau lipat rapi Semua mimpi Yang dulu kita lukis di sini (di sini...) 🎵 Waktu terhenti di ruang tunggu Kau sibuk merangkai bintang baru Untuk langit yang kau cipta sendiri Cerahmu tak lagi untuk bumi ini Aku tersenyum, meski hati bergetar Melihat pijarmu yang kian memudar Dari duniaku Terbanglah, sayang, kejar angkasamu Biar ku di sini, memeluk abu Dari semua janji yang pernah terucap untukku Tak apa, sungguh... bahagialah untukku 🎵 Dulu kau bilang, semesta kita Ada di secangkir teh dan senja Kini semestamu seluas angkasa Dan aku hanya jeda, sebelum kau lupa Aku mengerti, walau batinku resah Kau harus pergi, mengukir kisah Tanpa diriku Terbanglah, sayang, kejar angkasamu Biar ku di sini, memeluk abu Dari semua janji yang pernah terucap untukku Tak apa, sungguh... bahagialah untukku Aku tak marah... (hanya rindu) Sungguh, aku tak benci... (hanya beku...) Terbanglah, sayang, kejar angkasamu! (Kejar angkasamu!) (Memeluk abu!) Dari semua janji yang pernah terucap untukku! Tak apa, sungguh... bahagialah untukku! Angkasa kertasmu (Jauh...) Bahagialah untukku (Di angkasa) Doa tulus ku untuk mu”
Langit yang Berbeda
“🎵 Pelukan tanganmu... (hu-u-u) Masih hangat... terasa Tapi matamu, sayang... (ha-a-a) Terasa jauh Sunyi di ruang yang sama Nafasmu terdengar Tapi hening yang membelah Membangun sebuah dinding... (dinding tak terlihat...) Kita memandang langit yang berbeda Meski di bawah gugusan bintang yang sama Doa terucap... (tapi tak bertemu...) Di "amin" yang tak sama... (ha-a-a) Terpisah... di persimpangan... (itu...) 🎵 Aku merasakan... (wo-u-o) Getar di suaramu Tawa yang dulu ada Kini beku... jadi rindu Kau diam Aku menghindar Karena jawaban... (ha-a-a) Pasti... menyakitkan Kita memandang langit yang berbeda Meski di bawah gugusan bintang yang sama Doa terucap... (tapi tak bertemu...) Di "amin" yang tak sama... (ha-a-a) Terpisah... di persimpangan... (itu...) 🎵 "Melepasmu... (hu-u-u)" Bukan... karena tak sayang "Justru karena sayang..." "Ini... satu-satunya jalan..." "Kau tidak salah..." "Aku tak salah..." "Cinta tak salah..." Hanya dunia... (punya cara...) Dua doa, satu cinta, tak bersatu (hu..) Dua doa, satu cinta, tak bersatu (hu..) 🎵”
Pemeran Pengganti
“🎵 Langkahku gema di lantai asing (bukan rumahku) Mengeja namamu di ruang hening Jelas terbaca sisa dia (Masih ada dia...) Naskah ini terlalu sempurna (terlalu indah) Namun bukan aku lakon utamanya Lidahku kaku (hu), senyumku palsu (hu-u) Maaf, ku bukan yang kau minta (bukan dia) Hanya hati kecil yang mencoba Menyusun ulang semesta (yang kau cipta) Meski ku tahu, ku hanya sementara (Hanya sementara...) Sementara... "Maafkan aku" Terus mencoba (haaa, mencoba) Menjadi dia yang kau cinta (menjadi dia) Terus mencoba (jangan berhenti) Gantikan dia yang kau puja (gantikan dia) 🎵 Terus mencoba (haaa, mencoba) Menjadi dia yang kau cinta (menjadi dia) Terus mencoba (lihat aku!) Gantikan dia yang kau puja (Cukup aku...) Terus mencoba Menjadi diriku (bukan dia) "Hanya aku"”
Shanti Sanubari ing Mawana
“The juxtaposition of Shanti Sanubari with ing Mawana (in a settled state of stillness/calm) creates an incredibly peaceful outro. A final declaration that the storm is completely over, and the soul has now returned to its safe home.”



