Tracks Catalog
Explore track lyrics, durations, and streaming stats from our catalog
Simpan Saja
“🎵 Simpan saja Semua kenangan Tak usah diulang Sudah kuikhlaskan 🎵 Foto-foto kita, di dalam laci (Tak kubuang) Surat-surat lama, tak lagi kubaca (Hanya tersimpan) Dulu ku benci (semua jejakmu) Lalu ku rindu (setengah mati) Kini ku sadar, itu hanya bagian (Dari perjalanan) Ini bukan lagi, tentang amarah Ini bukan lagi, tentang siapa salah Ini hanya damai, yang datang perlahan Melepas genggaman, yang dulu kutahan (Kulepas...) Sudah waktunya... (Sudah waktunya...) Melepas semua (Jadi sejarah...) 🎵 Kenangan bukan musuh, (bukan penjara) Hanya pengingat, kita pernah tertawa Dan pernah terluka Biarkan di sana, jadi bagian sejarah Aku yang baru Kini melangkah 🎵”
Titik Koordinat Kita
“Hu-hu-u Bukan tempat megah, (yang ada di peta) Tak ada lampu sorot, (yang menunjuk ke sana) Hanya sudut kecil, di persimpangan kota Tempat kita selalu lupa, (segala lelah dunia) Orang-orang lalu-lalang, (mereka tak akan tahu) Ada sebuah dunia kecil, (milik aku dan kamu) Di mana jarum jam, (ha-a-a) Seakan setuju untuk... melambat Tak perlu kompas, (tak perlu utara) Aku selalu tahu, jalan kembali ke sana Di titik koordinat kita, (hatiku di rumah) Di mana pun aku berada, (ha-a-a) Jiwaku takkan pernah pindah Hatiku di rumah, di titik itu Hatiku di rumah, di titik itu Hu-a-a Aku ingat hujan, (yang turun tiba-tiba) Kita berbagi teh hangat, (di meja yang sama) Menertawakan hari, (yang tak selalu mudah) Semua beban terasa ringan, (bila kita di sana) Orang-orang lalu-lalang, (mereka tak akan tahu) Ada sebuah dunia kecil, (milik aku dan kamu) Di mana jarum jam, (ha-a-a) Seakan setuju untuk... melambat Tak perlu kompas, (tak perlu utara) Aku selalu tahu, jalan kembali ke sana Di titik koordinat kita, (hatiku di rumah) Di mana pun aku berada, (ha-a-a) Jiwaku takkan pernah pindah Bukan soal bangunannya, (bukan juga jalannya) Bukan kursinya, (bukan menunya) Ini tentang energi, (yang kita cipta di sana) Sebuah jangkar... di tengah badai dunia (Wo-u-o...) 🎵 Oh.. Tak perlu kompas, (tak perlu utara) Aku selalu tahu, jalan kembali ke sana Di titik koordinat kita, (hatiku di rumah) Di mana pun aku berada, (ha-a-a) Jiwaku takkan pernah pindah (Ooh... titik koordinat kita... Ha-u-u) (Jiwaku takkan pindah...)”
Ananda Sanjiwani
“Sanjiwani (something that revives/heals completely) complements the word Ananda (pure bliss). The music on this track begins to feel brighter, depicting the soul's cells, which were once numb, now slowly blossoming again.”
Dia Berarti
“🎵 Binar wajahmu, kata mereka Yang pikat semesta, bawa semua gelak tawa Banyak hartamu, bisik dunia Yang buka segala, pintu yang dulu terlara Dunia memang lihat, kau punya sejuta daya Setiap langkahmu mantap, penuh pesona kau bawa Tapi 'ku tahu, bukan itu tuahmu yang sejati Ada cahaya lain, yang tak semua mengerti Sungguh, kau pria beruntung, diberkati Oleh cinta wanita, sebaik hati, setulus itu 🎵 Tajam akalmu, kata mereka Yang mudahkan semua, setiap tutur dan reka Hangat baikmu, bisik dunia Yang tarik simpati, buat semua bahagia Dunia memang lihat, kau punya sejuta daya Setiap langkahmu mantap, penuh pesona kau bawa Tapi 'ku tahu, bukan itu tuahmu yang sejati Ada cahaya lain, yang tak semua mengerti Sungguh, kau pria beruntung, diberkati Oleh cinta wanita, sebaik hati, setulus itu 🎵 Tapi 'ku tahu, bukan itu tuahmu yang sejati Ada cahaya lain, yang tak semua mengerti Sungguh, kau pria beruntung, diberkati Oleh cinta wanita, sebaik hati, setulus itu 🎵 Cahaya lain Sebaik hati Setulus itu”
Janji Jari Kelingking
“🎵 Tak perlu kata-kata, (dari pujangga) Tak perlu istana, (megah di awan) (Hmmm...) Hanya perlu aku, (kamu di sini) (Hu-u) Hanya perlu aku, (kamu di sini) Di depan jendela, (menghadap senja) Kau ulurkan jarimu, (yang paling kecil) Aku tautkan milikku, (tanpa ragu) Sebuah segel tak terlihat, (ha-a-a) Jauh lebih kuat... dari sumpah apapun Dunia boleh berisik, (biar saja berputar) Kita punya bahasa, (yang tak perlu terucap) Sebuah ikatan sederhana, (wo-u-o) Yang takkan bisa patah Ini janji jari kelingking, (kasihku) Saat rambutmu memutih nanti Aku yang buatkan teh hangat, (saat kau letih) Genggam tanganmu erat, (menyeberangi hari) Sesederhana itu... tapi abadi 🎵 Kita akan tertawa, (mengingat hari ini) Betapa lugunya, (kita yang dulu) Mengira semesta, (ha-a-a) Bisa terikat... hanya dengan satu jari (Ternyata bisa...) Ini janji jari kelingking Saat rambutmu memutih nanti Aku yang buatkan teh hangat Genggam tanganmu erat, (menyeberangi hari) Ini janji jari kelingking Saat rambutmu memutih nanti Aku yang buatkan teh hangat Genggam tanganmu erat, (menyeberangi hari) Bukan tentang badai, yang akan kita lawan Tapi tentang payung, yang kita bagi berdua Bukan tentang puncak, yang harus kita tuju Tapi tentang langkah... yang selalu berdampingan (Selalu...) Kelingking terkecil, janji terbesar (a-a...) Kelingking terkecil, janji terbesar (ha-a...) 🎵”
Semua Pernah Bodoh
“Sudah, sudahlah ("dengar aku") Jangan buat gila ("jangan gila") Kita semua pernah Jadi hamba cinta (hamba cinta) Ini cuma giliranmu Terlihat bodoh (so stupid) Besok lusa pasti Kau yang tertawa (hahaha) Sudah, sudahlah (hapus air mata) Simpan siletnya ("buang saja") Kita semua pernah Hilang logika (hilang logika) Ini cuma giliranmu Terlihat bodoh (so stupid) Nikmati saja Peran yang ada (sementara) Ini cuma giliranmu Terlihat bodoh ("Siapa yang nggak pernah?") Ini cuma giliranmu Terlihat bodoh ("Semua ada masanya") Kenapa kaget? ("kenapa?") Kan sudah rumus dunia Saat hati bicara Otak pasti libur kerja (libur total) Kau pilih dia yang jelas salah Karena mata cinta Tak punya kaca (tak bisa baca) Tak pandang bulu Mau raja atau kuli (siapapun) Semua akan jatuh Dan tampak lucu (tertipu) Di hadapan rindu ("Dengarkan ini...") Tak ada pengecualian (no exception) Dalam putaran perasaan Hari ini kau menangis Dibuat mainan (kasihan) Tapi tenang sayang Roda kan berputar (berputar) Esok gantian Kau yang menyakiti orang (pasti gantian) Ini cuma giliranmu Terlihat bodoh ("Siapa yang nggak pernah?") Ini cuma giliranmu Terlihat bodoh ("Semua ada masanya") 🎵”



